Menjaga Hutan Melalui Pemanfataan Kerajinan Anyaman Nipah di Desa Dabong
Home » Artikel & Laporan  »  Menjaga Hutan Melalui Pemanfataan Kerajinan Anyaman Nipah di Desa Dabong
Menjaga Hutan Melalui Pemanfataan Kerajinan Anyaman Nipah di Desa Dabong

Editor: Evi

Kerajinan anyaman tikar idas oleh masyarakat di Dusun Selamat Jaya, Desa Dabong.

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Pemanfaatan kerajinan anyaman nipah di Desa dabong, merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap kelestarian hutan, dalam upaya pengelolaan potensi tumbuhan dengan memanfaatkan lingkungan sekitar dalam pembuatan kerajinan.

Kerajinan anyaman sudah dikenal sejak dulu oleh masyarakat yang tinggal di Dusun Selamat Jaya, Desa Dabong, bahkan tradisi menganyam menjadi salah satu warisan budaya sebagai hantaran dalam proses pernikahan adat mereka, salah satunya yakni kerajinan anyaman tikar idas.

Bagi masyarakat Desa Dabong, Kerajinan anyaman seperti tikar idas, tidak hanya memiliki nilai ekonomi tetapi juga memiliki makna simbolis yang mendalam dalam hubungan kekeluargaan.

Adapun untuk pelaku pengrajin tikar idas ini, hampir keseluruhannya merupakan ibu rumah tangga, yang keseharianya memang berkerja sebagai pengrajin tikar idas, namun ada juga masyarakat yang menjadikanya sebagai pekerjaan sampingan, di sela waktu luang mereka.

Selain pemanfataan yang dapat diolah menjadi berbagai kebutuhan, daun nipah yang sudah tua oleh masyarakat Desa Dabong dimanfaatkan untuk pembuatan atap rumah, sedangkan untuk bagian lainya digunakan untuk pembuatan sapu lidi, yang menghasilkan uang.

Perahu yang menjadi salah satu alat transportasi mereka untuk mengarungi tepian sungai, mencari daun nipah, menjadi saksi betapa mereka sangat memanfatkan hutan dengan sebaik mungkin.

Melimpahnya tumbuhan nipah di sepanjang pesisir sungai, menjadikannya kekayaan potensi hutan yang tak ada habisnya dimanfaatkan. Berpegang pada pengalaman dan keterampilan menganyam, salah satu warga di Desa Dabong, Leha (53) sukses menekuni usaha menganyam tikar idas.

Sejak puluhan tahun, Leha berkerja sebagai pengrajin tikar idas, kepiawaian menganyam tikar didapat dari orang tuanya yang kala itu mencari rizki dari membuat tikar idas yang dijual ke pengepul dan pada para nelayan. Dari menganyam tikar idas Leha bisa menghidupi keluarganya.

"Banyaknya daun nipah, membuat para pengrajin hampir setiap harinya memproduksi olahan anyaman tikar idas, untuk penghasilan tambahan khususnya para ibu rumah tangga,"ujarnya, Selasa (16/1/2024).

Dalam sebulan ia mampu meraup keuntungan jutaan rupiah dari bermodalkan daun nipah, yang dianyam sebagi kebutuhan para nelayan, untuk menjemur hasil tangkapan laut mereka, seperti udang, ikan, dan lainnya.

"Hasil pendapatan dari harga jual tikar idas sebulan mencapai 3 juta, sebagian besar anyaman tikar idas dijual kepada para nelayan atau warga sekitar" jelasnya.

Selain sebagai sumber ekonomi masyarakat, nipah juga mempunyai manfaat besar bagi kehidupan disekitarnya, terutama sebagai pelindung kawasan daratan dari adanya gelombang laut.

Tinggalkan Komentar

Scroll to Top
Scroll to Top