Penyerahan Alat Cultivator Kepada KUPS Agrofroresty Insan Cita Mandiri di Desa Kubu

KUBU RAYA, sampankalimantan.id-PT. Belantara Sejahtera Mandiri (BSM) melalui SAMPAN Kalimantan, melakukan penyerahan alat cultivator kepada KUPS Agrofroresty Insan Cita Mandiri  di Desa Kubu, Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya, Jumat (5/4/2024).

Dengan adanya bantuan Cultivator ini, diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi. Pertanian serta mendorong kemajuan dan perkembangan kelompok tani demi kesejahteraan anggota dan masyarakat secara umum.

Sebelumnya pengolahan tanah masih dilakukan dengan cara manual yaitu menggunakan cangkul. Selain waktu, penggunaan alat mesin pertanian ini juga dapat memudahkan proses penggarapan tanah akan menjadi lebih efektif dan memudahkan penanaman bibit semangka.

Ketua LPHD Desa Kubu, Ade menyampaikan, dengan diberikan alat cultivator diharapkan dapat membantu para petani agar dapat meningkatkan produksi pertanian, dalam hal pemanfaatan dan perawatan untuk dapat dilaksanakan dengan sebaik mungkin.

“Saya sangat mengapresiasi adanya inisiasi dari PT BSM melalui SAMPAN Kalimantan atas support dan bantuan mesin cultivator kepada KUPS Agrofroresty Insan Cita Mandiri  semoga bantuan ini bermanfaat sehingga dapat memotivasi para petani agar pertanian yang ada di Desa Kubu dapat semakin maju dan tentunya lebih baik lagi,” ungkapnya.

Sementara itu, menurut Desi Puspitasari Sekretaris KUPS Agrofroresty Insan Cita Mandiri, juga berharap bantuan ini dapat memotivasi para petani untuk lebih maju dan meningkatkan pertanian di Desa Kubu.

“Bantuan cultivator ini, akan membantu dalam penggarapan lahan untuk penanaman semangka,” ujarnya.

Para petani, seperti yang diungkapkan oleh Ahmad Riadi salah satu anggota KUPS Agrofroresty Insan Cita Mandiri, menyambut baik bantuan ini. Mereka berharap dapat menjadi petani yang lebih sukses dengan bantuan alat cultivator ini.

Dengan bantuan alat dan bibit yang diberikan, diharapkan para petani dapat meningkatkan hasil pertanian mereka dan berhasil meraih kesuksesan.

“Berbekal pengalaman, bahawa kegagalan merupakan bagian dari proses, tetap yakin bahwa keberhasilan akan datang setelah melewati berbagai kendala yang ada,” pungkasnya.

Editor: Evi

Penyerahan Alat Cultivator Kepada KUPS Agrofroresty Insan Cita Mandiri di Desa Kubu Read More »

Pemanfaatan Sabut Kelapa Untuk Proses Pembakaran yang Ramah Lingkungan

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Desa Ambarawa merupakan salah satu desa yang telah menerapkan pemanfaatan kelapa, untuk proses pembakaran yang ramah lingkungan.

Penggunaan kayu untuk pembakaran dapat diminimalkan atau bahkan dihilangkan, sebagai gantinya masyarakat memanfaatkan sabut dan tempurung kelapa untuk menyalakan api.

Sabut kelapa menjadi bahan utama yang digunakan untuk menyalai atau mengeringkan kopra saat cuaca di luar tak mendukung, terutama saat musim hujan tiba.

Melalui pemanfaatan sisa-sisa limbah kelapa ini, masyarakat setempat dapat mengurangi tumpukan kelapa yang berserakan.

Sementara itu, tempurung kelapa juga dimanfaatkan namun, tidak sebanyak sabut karena arangnya memiliki nilai jual.

Oleh karena itu, penggunaan tempurung terbatas hanya untuk menghidupkan api. Dengan demikian, desa ini tidak hanya mengurangi penggunaan kayu, tetapi juga mampu memanfaatkan semua bagian dari kelapa tanpa menyia-nyiakannya.

Bagaimana pemanfaatan sumber daya alam secara optimal, dapat dilakukan dengan memaksimalkan penggunaan bahan-bahan lokal.

Desa Ambarawa menunjukkan, bahwa dengan pengetahuan lokal dan solusi-solusi ramah lingkungan dapat ditemukan bahkan dalam hal sepele seperti proses pembakaran.

Dengan demikian, upaya melindungi lingkungan dapat terus ditingkatkan melalui inovasi dan penerapan praktik-praktik ramah lingkungan yang lebih baik.

Editor: Evi

Pemanfaatan Sabut Kelapa Untuk Proses Pembakaran yang Ramah Lingkungan Read More »

Upaya Masyarakat Desa Ambarawa Dalam Menghadapi Musim Kemarau

Editor: Evi

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Saat musim kemarau tiba, ancaman kebakaran hutan menjadi perhatian utama bagi masyarakat setempat, tak hanya pada upaya mencegah kebakaran hutan, tetapi juga menjaga hutan agar tetap terlindung.

Meskipun kebakaran sering terjadi di sekitar desa, terutama di lahan gambut yang kering dan semak belukar di pinggiran hutan, upaya masyarakat dalam menjaga hutan dari ancaman kebakaran terus berlangsung.

Kepala Desa Ambarawa Bakri mengatakan, adanya Masyarakat Peduli Api (MPA) dibentuk khusus untuk mengawasi dan mencegah kebakaran hutan. Mereka berperan penting dalam menjaga agar api tidak merambat masuk ke dalam hutan.

“Kerja sama antara SAMPAN Kalimantan, anggota TNI/ Polri, serta pemerintah desa dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga hutan tetap aman dari kebakaran,” ujarnya

Menurut Bakri, beberapa sumber lokal kebakaran hutan sering terjadi di musim kemarau, namun umum terjadi di area pinggiran hutan, terutama lahan gambut yang mudah terbakar dan semak belukar yang rentan terhadap percikan api.

Oleh karena itu, upaya pencegahan dilakukan secara intensif, khususnya di sekitar area yang rawan terjadi kebakaran.

“Kami melakukan patroli rutin, dan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya kebakaran hutan serta pentingnya pencegahan,” ujarnya.

Ia lantas menjelaskan, tak hanya melakukan patroli anggota tim MPA juga aktif dalam mengedukasi masyarakat tentang teknik-teknik memadam kebakaran sederhana dan bagaimana melaporkan kejadian kebakaran secara cepat kepada pihak berwenang.

“Kami berharap dapat menjaga hutan tetap hijau dan lestari di tengah ancaman kebakaran yang selalu mengintai di musim kemarau,” pungkasnya.

Dia menambahkan, meskipun risiko kebakaran masih ada tetapi kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian hutan semakin meningkat di antara penduduk desa.

Upaya Masyarakat Desa Ambarawa Dalam Menghadapi Musim Kemarau Read More »

Mengenal Olahan Bakso Udang Khas Desa Ambarawa

KUBU RAYA, sampankalimantan.id-Berbeda dengan bakso pada umumnya di Desa Ambarawa memiliki olahan bakso unik berbahan dasar udang, menjadi salah satu makanan khas sebagai kuliner utama di Desa Ambarawa yang sudah jarang ditemui ditempat lain.

Bakso udang merupakan kuliner yang wajib untuk dicoba saat berkunjung ke Desa Ambarawa, dari udang yang segar diolah dengan resep turun-temurun, memiliki cita rasa dengan tekstur yang kenyal beraromakan khas udang, semakin menambah kenikmatan rasa saat menyantapnya.

Setelah melewati proses panjang pembuatan, bakso yang sudah siap diproduksi, nantinya akan dipasarkan ke masyarakat yang tinggal disekitar. Sebagai pembuat Ana merasa sangat senang hasil olahannya sendiri dapat dipasarkan, dan diperjual kembali oleh mereka yang membuka usaha kecil-kecilan di desa tersebut.

“Selain bakso udang, biasanya pembuatan bakso juga menggunakan hasil laut lainnya, salah satunya ikan tenggiri, yang merupakan hasil tangkapan nelayan sekitar,” ujar Ana selaku masyarakat yang memproduksi olahan bakso di Desa Ambarawa, Kamis (7/3/2024).

Ana menyebutkan, untuk harga perkilo yang ditawarkan kepada konsumen, sangatlah terjangkau hanya berkisaran seharga Rp. 40.000. dengan bakso yang masih segar pula. Harga yang merakyat, namun tetap memperhatikan kualitas dari makanan tersebut tetap terjamin.

Proses untuk pembuatan olahan bakso udang ini, dilakukannya seorang diri dengan menggunakan cara yang masih tradisional. Dalam sekali pembuatan, ia mampu memproduksi lebih dari lima kilo bakso udang.

Beberapa masyarakat lain juga, memanfaatkan hasil tangkapan nelayan sendiri, diolah menjadi makanan berbagai hidangan makanan atau cemilan, seperti pembuatan bakso dengan cara digoreng.

“Pembuatan dulunya masih sederhana dengan menggunakan teknik dipotong-potong kecil atau penggilingan manual sebagai penghalusnya, dan akhirnya sekarang sudah terbantu dengan adanya penggilingan, dan sekarang menggunakan mesin yang tak manual lagi,” ungkapnya.

Editor: Evi

Mengenal Olahan Bakso Udang Khas Desa Ambarawa Read More »

Keberagaman Potensi Hasil Hutan di Desa Abarawa

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Hutan lindung di Desa Ambarawa menyimpan beragam potensi, terutama dalam hal keanekaragaman jenis pohon yang hidup di dalamnya.

Hutan Desa Ambarawa ini, didominasi oleh berbagai jenis pohon yang memiliki nilai ekologis dan ekonomis yang tinggi.

“Berbagai jenis kayu yang dapat ditemukan di hutan lindung Desa Ambarawa antara lain kayu Meranti, Kempas, Jelutung, Jeramin, Kapas, Terentang, dan kayu Mahang dan masih banyak lagi lainnya,”ungkap Bakri selaku Kepala Desa Ambarawa.

Selain itu, hutan ini juga menjadi tempat bagi tanaman rotan yang menjadi salah satu komoditas penting dalam industri kerajinan lokal oleh masyarakat Desa Ambarawa.

Jenis pohon tersebut memberikan berbagai manfaat bagi masyarakat setempat. Selain menjadi sumber bahan baku kerajinan, hutan lindung juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem.

“Meskipun memiliki potensi yang besar, hutan lindung Desa Ambarawa juga perlu dilakukan upaya perlindungan dan konservasi hutan, yang menjadi kunci dalam menjaga keberlangsungan hutan,” jelasnya.

Ia menuturkan, peran aktif masyarakat dalam pengelolaan hutan lindung sangatlah penting. Melalui kegiatan pengawasan dan pemantauan, seperti patroli rutin, serta partisipasi dalam program restorasi hutan.

“Dalam rangka menjaga keberlanjutan hutan lindung Desa Ambarawa, tentunya berkolaborasi antara pemerintah daerah maupun lembaga SAMPAN Kalimantan dan masyarakat lokal perlu terus ditingkatkan,” imbuhnya.

Bakri pun berharap, melalui pelatihan dan edukasi mengenai pentingnya pelestarian hutan juga perlu ditingkatkan agar kesadaran akan perlindungan lingkungan semakin meningkat di kalangan masyarakat.

Editor: Evi

Keberagaman Potensi Hasil Hutan di Desa Abarawa Read More »

Proses Tradisional Pembuatan Minyak Kelapa dari Kentos oleh Masyarakat Desa Ambarawa

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Dalam sebuah perjalanan melalui desa ini, kita dapat melihat betapa pentingnya kelapa dalam kehidupan sehari-hari penduduknya. Berbagai produk olahan dihasilkan dari kelapa. Seperti halnya buah kelapa yang sudah tua, dapat dijadikan santan, minyak, dan kelapa kering.

Melimpahnya komoditas kelapa di Desa Ambarawa, tentu memberikan manfaat besar terutama sebagai penghasil minyak kelapa dengan kualitas yang baik. Proses pembuatan minyak kelapa pun masih terbilang tradisional, dengan hanya menggunakan tungku api.

Pemilihan buah kelapa yang tepat memang sangat penting dalam proses pembuatan minyak kelapa. Salah satu faktor penentu yang harus diperhatikan, apakah buah kelapa tersebut sudah memiliki tunas atau kentos, atau biasa dikenal sebagai “Kentos Kelapa” oleh masyarakat.

Masyarakat Desa Ambarawa mempercayai bahwa kentos kelapa ini, memiliki kandungan air yang jauh lebih sedikit. Hal ini dikarenakan sebagian besar buah kelapa telah digunakan untuk pertumbuhan tunas.

Oleh karena itu, buah kelapa dengan kentos cenderung memiliki kualitas minyak yang lebih banyak daripada buah kelapa yang masih segar dan belum memiliki tunas.

Setelah melewati proses penyortiran buah mana yang akan digunakan, selanjutnya daging kelapa kemudian diparut menjadi serpihan halus. Proses ini dapat dilakukan secara manual dengan alat parut tradisional atau menggunakan mesin pemarut.

Sunarti ibu rumah tangga yang sangat produktif di Desa Ambarawa, dalam sekali pembuatan minyak kelapa, dia mampu mengolah lebih dari tiga ratus butir kelapa, dan menghasilkan minyak murni sebanyak delapan liter.

Pendiaman santan kelapa selama dua puluh empat jam setelah proses pemarutan, menurutnya merupakan langkah yang tak boleh dilewatkan dalam pembuatan minyak kelapa, untuk mendapatkan minyak dengan kualitas baik.

Pendiaman ini memungkinkan pemisahan yang lebih efektif antara minyak kelapa dan air, sehingga ketika minyak tersebut dipisahkan dari lapisan di atas, hasilnya didapatkan minyak kelapa yang lebih murni.

Sunarti mengatakan, adapun untuk proses pemasakan minyak kelapa, menurutnya cukup memakan waktu yang lama, sekitar empat jam.

Menurutnya, kualitas minyak yang dimasak dengan menggunakan tungku api akan jauh lebih baik, karena memiliki aroma khas kelapa yang dikeluarkan pun akan lebih terasa.

Minyak hasil produksi ini, nantinya akan dijual kembali kepada masyarakat dengan kisaran harga lima belas ribu rupiah untuk perbotolnya, dan beberapa masyarakat juga menggunakannya untuk kebutuhan mereka sehari-hari.

Editor: Evi

Proses Tradisional Pembuatan Minyak Kelapa dari Kentos oleh Masyarakat Desa Ambarawa Read More »

Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Potensi Desa Ambarawa

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Dari pagi hingga senja, deretan aktivitas masyarakat Desa Ambarawa, mulai dari menangkap hasil laut hingga bercocok tanam telah menjadi norma bagi warga desa setempat, untuk terlibat dalam berbagai kegiatan yang mendukung pengelolaan potensi dan keberlanjutan lingkungan mereka.

Sementara itu, para petani Desa Ambarawa merawat tanah subur mereka, dengan menanam berbagai jenis tanaman, mulai dari padi hingga sayuran, yang tak hanya memenuhi kebutuhan mereka sendiri tetapi juga menjadi sumber penghasilan yang stabil bagi desa.

Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan potensi hasil bertani atau bercocok tanam telah menjadi tolak ukur bagi kemakmuran desa, dengan menyediakan pasokan makanan lokal yang berlimpah, serta mengupayakan pemanfaatan lingkungan sekitar tetap terpelihara.

Selain itu, pengolahan hasil kelapa juga menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakat Desa Ambarawa. Dari kopra hingga tempurung kelapa, mereka mengolah bahan mentah yang disulap menjadi produk yang bernilai jual.

Di Desa Ambarawa, partisipasi masyarakat dalam pengelolaan potensi hasil laut menjadi pilar utama dalam menjaga ekosistem laut. Para nelayan desa ini, tidak hanya menjadi pencari ikan, tetapi juga penjaga laut, dengan menerapkan praktik penangkapan yang bertanggung jawab dan tentunya ramah lingkungan.

Masyarakat Desa Ambarawa, memberikan contoh bagaimana partisipasi aktif mereka berperan dalam menjaga keberlanjutan lingkungan laut, menjadikan mereka teladan dalam pengelolaan sumber daya alam.

Editor: evi

Partisipasi Masyarakat dalam Pengelolaan Potensi Desa Ambarawa Read More »

Peran Kelapa dan Padi dalam Eksistensi Desa Ambarawa

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Pemandangan kebun kelapa menjadi ciri khas yang tak terhindarkan. Hal ini bukan tanpa alasan, karena kelapa menjadi primadona sumber pendapatan, bagi banyak keluarga di sana.

Selain itu, tradisi berladang padi juga tetap dijaga dengan penuh kearifan lokal, sebagai sumber penghasilan tambahan yang tidak bisa diabaikan.

“Berladang padi menjadi kegiatan rutin tahunan yang dinanti-nantikan, di mana masyarakat bergotong royong menuai hasil panen,” ujar Bakri selaku Kepala Desa Ambarawa.

Meskipun kegiatan berladang padi hanya dilakukan secara musiman, masyarakat Desa Ambarawa terus menjaga tradisi ini, dengan mengupayakan sistem berladang yang tak merusak lingkungan.

Sistem berladang untuk masyarakat di Desa Ambarawa, lebih kepada pengguna pestisida atau racun rumput, sedangkan untuk sistem buka lahan dengan cara penebasan sudah jarang dilakukan lagi oleh masyarakat.

Proses berladang dimulai sekitar bulan Juli, di mana lahan dipersiapkan dan bibit padi ditanam dengan penuh harap.

Bulan berikutnya, September dan Oktober menjadi waktu yang dinanti-nantikan, di mana padi mulai tumbuh dan siap untuk dipanen.

Masyarakat disana, juga tak menutup diri terhadap potensi sumber penghasil lainnya. Namun, beberapa warga juga terlibat dalam usaha pengelolaan kelapa.

Editor: Evi

Peran Kelapa dan Padi dalam Eksistensi Desa Ambarawa Read More »

Pengembangan Potensi Hasil Kelapa sebagai Pilar Ekonomi Desa Ambarawa

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Kelapa telah menjadi tonggak utama dalam perjalanan pemberdayaan Desa Ambarawa. Mulai dari penanaman, pengolahan, hingga pemasaran.  Masyarakat desa disana telah menjadikan kelapa sebagai sumber pendapatan utama mereka.

Farida salah satu dari banyak masyarakat Desa Ambarawa yang bergantung pada kelapa sebagai sumber penghidupan. Setiap hari, ia berkerja sebagai buruh pencungkil kelapa, kepiawaianya memisahkan daging buah dari tempurung kelapa tak diragukan lagi.

Dalam sehari mencungkil buah kelapa, Farida mampu meraup upah sebesar seratus ribu rupiah, dalam waktu sepuluh jam berkerja. Dengan upah yang demikian, cukup untuk membantu kebutuhan perekonomian keluarganya.

“Untuk buruh kelapa dihargai sepuluh ribu untuk perjam, biasanya jika persediaan kelapa yang banyak dalam sehari mampu menghasilkan upah sebesar seratus ribu rupiah,” tuturnya.

Perkerjaan sebagai buruh pecungkil kelapa Desa Ambarawa, umumnya dilakoni oleh sebagaian besar ibu rumah tangga. Menurutnya berkerja sebagai buruh pecungkil buah kelapa merupakan sebuah perkerjaan yang ringan dan tak memberatkan, karena dapat dilakukan sembari duduk.

Meskipun pekerjaannya tidak selalu mudah, karena teriknya matahari dan cuaca yang kadang berubah, ini tak menyurutkan semangatnya untuk menggumpulkan pundi-pundi rupiah.

Upah yang diperoleh Farida dari hasil mencungkil kelapa, ia gunakan  untuk membayar sekolah anak-anaknya dan bahkan menyisihkan sedikit untuk tabungan keluarganya.

Farida memahami pentingnya pekerjaannya dan bertekad untuk melakukannya dengan penuh dedikasi. Farida pun, membawa pulang hasil kerja kerasnya dengan bangga, mengetahui bahwa pengorbanannya telah membawa manfaat bagi keluarganya.

“Upah dari mencungkil kelapa tidak hanya membantu saya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memberikan saya rasa bangga dan kepuasan,” ujarnya dengan tulus.

Editor: Evi

Pengembangan Potensi Hasil Kelapa sebagai Pilar Ekonomi Desa Ambarawa Read More »

Peran Nelayan Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa Ambarawa

KUBU RAYA, sampankalimantan.id- Selain banyaknya komoditas kelapa yang dihasilkan di Desa Ambarawa, peran nelayan juga tak kalah penting dalam membantu meningkatkan perekonomian  masyarakat.

Saat matahari mulai terbit, para nelayan pun mulai bergegas menyiapkan perahu mereka untuk berlayar memasuki perairan dengan berbekalan jaring dan peralatan sederahana, mereka siap untuk menangkap hasil laut.

Dari hasil penjualan ikan dan produk laut lainnya, kemudian mereka kumpulkan untuk dijual ke pengepul maupun masyarakat disekitar desa, beberapa nelayan juga memanfaatkan hasil tangkapannya sebagai lauk dan juga diolah menjadi ikan asin.

Adanya perubahan cuaca sewaktu-waktu, juga  menjadi salah satu faktor penentu hasil tangkapan nelayan untuk berburu hasul laut, angin dan gelombang besar membuat para nelayan merasa khawatir. Meski demikian tak menyurutkan semangat mereka.

Tentu saja, pendapatan yang diperoleh dari penjualan hasil tangkapan laut oleh para nelayan tidak hanya memenuhi kebutuhan mereka sendiri, tetapi juga memiliki dampak yang lebih luas bagi ekonomi lokal.

Dengan demikian, peran nelayan di Desa Ambarawa dalam menciptakan lapangan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal sangatlah penting, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan hasil laut sebagai sumber utama penghidupan mereka.

Editor: Evi

Peran Nelayan Dalam Meningkatkan Perekonomian Masyarakat Desa Ambarawa Read More »

Scroll to Top