SAMPANKALIMANTAN.ID – Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Teluk Bakung didampingi SAMPAN Kalimantan melalui Delta Kapuas Project bersama AIESEC in Untan menyelenggarakan Delta Kapuas Climate Action Exchange and Tree Planting for Peatland Restoration di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran lapangan bagi peserta AIESEC untuk mengenal aksi iklim berbasis masyarakat, pengelolaan Hutan Desa, dan pemulihan lahan gambut.
Delta Kapuas Project bersama AIESEC in Universitas Tanjungpura (Untan) menggelar Delta Kapuas Climate Action Exchange and Tree Planting for Peatland Restoration di Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Selasa (30/6/2026). Kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi relawan internasional untuk melihat secara langsung bagaimana aksi mitigasi perubahan iklim dijalankan melalui pemulihan lahan gambut, pengelolaan Hutan Desa, serta penguatan ekonomi masyarakat berbasis perhutanan sosial.
Melalui pelatihan ini, LPHD yang didamping SAMPAN Kalimantan berkomitmen memperkuat kapasitas masyarakat dalam menjaga kawasan Perhutanan Sosial. Penguatan kapasitas di tingkat desa diharapkan mampu mendorong upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang lebih cepat, efektif, dan berkelanjutan, sehingga kelestarian hutan tetap terjaga serta memberikan manfaat bagi masyarakat saat ini maupun generasi yang akan datang.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Green Leaders and Incoming Global Volunteer AIESEC yang mempertemukan relawan dari berbagai negara dengan masyarakat lokal. Teluk Bakung dipilih sebagai lokasi pembelajaran karena memiliki praktik pengelolaan Hutan Desa yang mengintegrasikan perlindungan kawasan, hukum adat, patroli hutan, hingga pengembangan Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS).
Peserta berasal dari Pakistan, Vietnam, Tunisia, serta mahasiswa Universitas Tanjungpura dan IAIN Pontianak. Mereka berdialog langsung dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD), pengelola KUPS, tim patroli hutan, tokoh adat, dan masyarakat Desa Teluk Bakung. Hadir pula tim Delta Kapuas Project dari SAMPAN Kalimantan yang memfasilitasi pertukaran pengetahuan selama kegiatan berlangsung.
Kegiatan dibuka dengan tarian tradisional Dayak sebagai bentuk penghormatan kepada tamu sekaligus pengenalan budaya lokal. Melalui penyambutan tersebut, peserta diperlihatkan bahwa pengelolaan hutan di Teluk Bakung tidak hanya berorientasi pada aspek ekologis, tetapi juga berakar pada nilai sosial, budaya, dan adat yang masih dijaga oleh masyarakat.

Peserta AIESEC dari Pakistan, Vietnam, Tunisia, bersama mahasiswa dan masyarakat mengikuti penanaman pohon dalam kegiatan Delta Kapuas Climate Action Exchange and Tree Planting for Peatland Restoration di Desa Teluk Bakung, Kabupaten Kubu Raya.
Peserta kemudian melakukan penanaman pohon di lahan gambut sebagai bagian dari upaya restorasi ekosistem dan pengurangan risiko kebakaran hutan dan lahan. Kegiatan ini memberi pengalaman langsung mengenai pentingnya menjaga fungsi gambut sebagai penyimpan karbon sekaligus penyangga kehidupan masyarakat. Di Teluk Bakung, Hutan Desa seluas sekitar 5.605 hektare menjadi contoh bagaimana konservasi dapat berjalan beriringan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam sesi diskusi, SAMPAN Kalimantan memperkenalkan Delta Kapuas Project sebagai inisiatif berbasis perhutanan sosial yang bekerja bersama 25 desa di Kabupaten Kubu Raya dan Kayong Utara. Pendekatan yang diterapkan menitikberatkan pada tiga pilar utama, yaitu kelola kawasan, kelola kelembagaan, dan kelola usaha, sehingga perlindungan hutan berjalan seiring dengan penguatan kelembagaan masyarakat dan pengembangan mata pencaharian berkelanjutan.
Keunikan kegiatan ini terletak pada keterlibatan masyarakat sebagai narasumber utama. Perwakilan masyarakat memaparkan pengalaman mengelola Hutan Desa, menjalankan patroli kawasan, mengembangkan KUPS, hingga menerapkan hukum adat dalam menjaga kelestarian hutan.
Mereka juga menjelaskan aturan adat terkait pembukaan lahan yang menjadi bagian dari perlindungan kawasan bernilai konservasi tinggi, khususnya Nilai Konservasi Tinggi (NKT) 6, yang memiliki nilai budaya, sejarah, dan spiritual penting bagi masyarakat setempat.
Pertukaran pengetahuan berlangsung secara dua arah. Relawan internasional turut berbagi tantangan lingkungan di negara asal masing-masing. Peserta dari Vietnam mengangkat persoalan polusi udara dan sampah plastik, peserta Pakistan menceritakan meningkatnya suhu ekstrem akibat perubahan iklim, sedangkan peserta Tunisia berbagi pengalaman mengenai keterbatasan akses air bersih. Diskusi tersebut menunjukkan bahwa meskipun tantangan lingkungan berbeda di setiap negara, solusi berbasis masyarakat menjadi kebutuhan bersama.
