Salah satu peserta asal Vietnam, Linh Tran Thi My (Rose), menilai pendekatan Delta Kapuas Project yang menghubungkan pelestarian hutan dengan penguatan ekonomi masyarakat merupakan langkah yang tepat.
“Pendekatan yang dilakukan sangat baik karena membantu masyarakat memperoleh penghasilan. Meskipun saat ini skalanya masih kecil, saya berharap ke depan program ini dapat berkembang lebih besar sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya,” ujar Rose.
Sementara itu, peserta asal Pakistan, Sadia Khuwaja, mengaku terkesan dengan kondisi hutan di Teluk Bakung yang masih terjaga.
“Saya sangat terkesan melihat hutan di Teluk Bakung yang masih lebat dan terjaga. Di Pakistan, tutupan hutan hanya sekitar 5,4 persen dari luas wilayah negara kami, sehingga pengalaman ini sangat berharga bagi saya,” ujar Sadia.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan kunjungan ke KUPS Silvofishery Lele dan KUPS Silvopastura Babi. Melalui kunjungan tersebut, peserta melihat bahwa perhutanan sosial tidak hanya berfokus pada perlindungan kawasan, tetapi juga menjadi sarana pengembangan usaha produktif yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian ekosistem.
Melalui Delta Kapuas Climate Action Exchange and Tree Planting for Peatland Restoration, Delta Kapuas Project menunjukkan bahwa aksi mitigasi perubahan iklim dapat dibangun melalui pembelajaran bersama, dialog lintas budaya, dan penguatan peran masyarakat sebagai pelaku utama pengelolaan hutan. Kolaborasi ini menjadi bukti bahwa solusi terhadap krisis iklim tidak hanya lahir dari kebijakan, tetapi juga dari praktik-praktik baik yang tumbuh di tingkat desa.
*
Penulis: Paksi Lalang Sambegana
Editor: Jimmi Abraham
